6.01.2015

Totebag dan Celana Pendek a la Tinta

Saya punya proyek baru. Namanya masih saya pikirkan (kelamaan mikir. harap sabar). Intinya proyek ini mendokumentasikan gaya penggiat dan penikmat yang rajin muncul di skena Surabaya, yang saya kenal. Kenapa yang saya kenal? Kenapa tidak semua skena? Karena saya ingin mendekati secara personal orang - orang yang sudah saya kenal, serta sudah lama saya perhatikan gayanya. Saya tinggal di Surabaya dan sudah 6 tahun ini datang ke acara musik. Saya bukan anak band (band saya cuma 1, manggung pun sudah lama tidak, EP pun tidak ada, tapi dijamin bisa bikin keringetan sekalinya manggung. teknik marketing ini, buk.). Saya cuma sering datang aja, lalu kenal mereka, lalu berteman dekat. Selama ini saya suka memperhatikan gaya mereka, ikonik sekali. Ada yang selalu datang bak turis pantai dengan kemeja motif pohon kelapa, topi pantai, celana pendek, dan tas ransel (jadi inget backpacker yang nginepnya di pantai, tidur berbentalkan ransel), ada juga yang doyan pakai kaos motif afrika-afrika dan celana pendek, ada juga yang ini niiih.... Kalo gosipin yang satu ini, pasti yang teringat tote bag berukuran hella besar. Saat itu, 6 tahun yang lalu, sebelum tren tote bag, Anitha Silvia atau biasa disebut Tinta, selalu membawa tas pundak berukuran besar, entah dalam warna putih dengan bahan kanvas, atau bahan yang lebih fancy dengan motif bunga - bunga (biasanya dipakai saat ia datang ke gig, setelah pulang kantor. waktu itu dia masih bekerja kantoran). Lalu, yang lebih ikonik, yang selalu dia pakai sehari-hari, dari kota ke kota, dari gig ke gig, adalah celana pendek! Hot Pants atau Shorts! Maka dari itu, saya penasaran banget ngulik gaya pakaian Tinta. Khas sekali yang dia pakai. "Tinta, kenapa sih suka pakai celana pendek?". "Ya karena Surabaya itu panas banget, Prinka. Makanya aku pakai celana pendek.", jawabnya dengan logat khas yang sedikit cadel dan amat terngiang - ngiang di kepala. "Tapi kok sekarang ditambah legging hitam? Aku sempat beberapa kali lihat kamu pakai legging hitam yang kamu dobel sama celana pendekmu yang jeans ini atau yang hitam.", jawab saya yang kepo banget. "Oh, itu karena sekarang mendung. Kan dingin, jadi aku pakai legging atau stocking hitam. Kalau acaranya saat malam dan sedang dingin, juga aku dobelin dengan stocking atau legging.", papar Tinta sambil menghabiskan roti sisir. "Pasangannya selalu kaos ya?", tanyaku lagi (mulai annoying). "Iya, soalnya simple sih. Barang yang sering aku beli ya kaos.". Untuk urusan kaos, tinta sering terlihat memakai kaos band, gigs, dan label rekaman lokal. "Kenapa totebag kamu gede banget?", ini pertanyaan terakhir. "Karena aku bawa barang banyak banget dan yang simple yang dengan tote bag.". Begitulah penjelasan dari Tinta. Bahkan pernah ada becandaan waktu suatu acara pasar lokal menjual merchandise berupa tote bag, saya dan teman-teman saya becanda, "Wah, iki totebag ukurane tinta iki. Opo ae iso mlebu." . Kami berbincang-bincang cukup lama. Kami juga membicarakan gigs, pekerjaan, pilihan Tinta untuk berhenti bekerja kantoran, dan pentingnya menyelesaikan kuliah (semoga cepat selesai skripsinya, Prinka). Di akhir hari, Tinta memberi saya buku hitam dengan judul Anonymous Writers Club dari Kunci Jogja, lalu saya menemani Tinta berbelanja di supermarket (disana nemu bihun yang packagingnya warna pink kinky!). Sehabis itu, mendung masih mengintai, tapi Tinta harus berangkat bekerja di sebuah kafe dan saya lanjut berbelanja lingerie hitam renda-renda. Hari itu Surabaya mendung dan berangin ringan, pas untuk dibuat berjalan kaki :D. Beruntunglah tengah kota Surabaya punta trotoar yang luas. 





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogger templates