4.12.2017

Setoples Kopi Pemberianmu




Kamu tau?
Barusan aku bikin kopi dari bubuk kopi Sumatra pemberianmu. Padahal aku nggak pengen melek juga. Di luar hujan deras, aku barusan kirim revisian ke dosen. Eh, sebentar, aku mau ke kamar mandi.


Oke, Aku sudah kembali. Aku baru saja mengecap kopimu. Dari tadi belum aku minum. Masih panas. Benar katamu, kopi ini enak sekali. Pahitnya pas. Tidak masam seperti kobi robusta. Kopi di Jawa memang cenderung masam. Pahit, tapi tak sepenuhnya pahit.

Kamu tau?
Aku percaya bahwa semua itu nggak ada yang kebetulan. Mungkin ini rasanya gila, kalau aku, yang nggak relijius, bilang hal seperti ini. Baru saja balik dari kamar mandi dan kembali pasang headset, lagu yang terputar bukan lagu yang pernah aku dengar. Tapi rasanya pas sekali. Lagu ini adalah lagu dari The Clientele yang belum pernah aku dengar sebelumnya. Nggak kebetulan kalau lagu ini ter-shuffle waktu hujan lebat begini.

Aku percaya bahwa semua itu nggak ada yang kebetulan dan semuanya itu saling terhubung satu sama lain dalam lingkaran. Kenapa? Karena aku percaya, semesta itu bulat. Begitu pula hal-hal yang ada di dalamnya. Aku percaya kalau matahari yang terbit di timur, akan tenggelam di barat, dan akan terbit lagi dari sisi timur. Papaku yang bahagia kemarin malam, hari ini bisa jadi sedih, lalu besok jadi bahagia lagi. Yang kaya akan jatuh miskin, lalu bangkit kaya lagi. Entah kaya dalam hal apa, miskin dalam hal apa.

Aku percaya mungkin kita pernah bertemu sebelumnya. Nggak heran rasanya kamu bukan orang yang asing. Nggak heran rasanya kamu nggak pernah sejauh itu, sejauh jarak tempuh pesawat yang membawa kamu magang sampai ke pelosok Padang. Aku percaya mungkin kita pernah kenal sebelumnya. Kata ibu-ibu yang meditasi di tempat yoga itu, kamu akan menjalani berbagai macam kehidupan, kamu akan hidup dalam beragam bentuk, tapi kamu akan selalu bertemu dengan satu orang yang sama. Rasanya naïf kalau mempercayai itu. Tapi, aku percaya nggak ada yang namanya kebetulan.

Seingatku, waktu itu tanggal 8 Februari. Hari Sabtu. Harusnya 6 hari setelah itu, si seniman yang mengucapkan Selamat Hari Valentine kepadaku. Tapi, 6 hari sebelumnya, entah apa yang membawaku ke Aiola. Aku pesan 2 botol air putih, sambil menunggu kamu. Hari itu aku haus. Haus sekali. Sampai satu botol habis, kamu belum datang. Kata anak-anak,  motormu sudah butut. Taunya, nggak cuma itu, tapi kamunya memang yang lambat kalau menyetir. Ternyata juga, rumahmu jauh. Botol kedua sudah habis separuh dan kamu baru muncul. Tak lama, kita memutuskan pergi saja ke tempat itu. Kita belum pesan tempat, hanya berharap kalau-kalau setan lagi sepi kerjaan menggoda muda-mudi.

Aku menyetir di depanmu. Katamu kamu nggak hafal jalannya. Batinku, sialan, anak ini benar-benar sudah lambat, nggak hafal jalan lagi. Sesampai sana, kita pesan kamar dan menaiki lift yang sudah remang-remang.

Di kamar hotel itu, lampunya ada empat, atau enam. Tapi, yang menyala, cuma dua. Benar-benar love hotel memang. Aku sudah pernah melakukan hal seperti ini. Aku benci sebenarnya melakukan hal begini lagi. Tapi, aku ini cuma lubang hitam di semesta yang bulat ini. Ada lubang-lubang di tubuhku yang perlu diisi. Kupikir begitu. Lalu, kamu berkata, “Ini gimana enaknya?”. Aku pun tertawa. Tertawa gugup. Aku menutupi gugupku dengan membenarkan stockingku di kamar mandi. Aku selalu suka hal-hal indah, stocking dan renda. Dan, untuk hal-hal yang indah, aku belum pernah memakainya di hadapan orang lain. Aku tidak berpikir kamu beruntung, waktu itu. Aku hanya berpikir, mungkin kamu cocok diperlihatkan koleksi stockingku. Tapi, aku percaya, kalau nggak ada yang namanya kebetulan. Lalu, aku keluar dari kamar mandi dan duduk di ujung kasur, di sebelahmu. Aku tertawa. Lagi. Sial. Tiba-tiba, sebelum aku memberi tanda, kamu sambar bibirku. Ciuman yang pertama kali bikin aku gugup dengan rasa yang asing. Sejak saat itu, aku mencari-cari rasa apa yang kamu beri.

Aku pikir lubangku selalu kosong. Aku pikir lubangku hanya satu yang kosong; hanya satu yang perlu diisi. Ternyata benar, aku adalah lubang hitam di semesta yang bulat ini. Tapi, seperti halnya lubang di gigi. Ada yang kasat mata, ada yang tidak kasat mata. Yang tidak kasat mata, tidak terlihat, itu lah, yang tidak pernah aku tau kalau aku punya.

Kamu tau kan kalau aku percaya nggak ada yang kebetulan?
Aku masih ingat sekali, rambut kita basah, masih berendam di bath tub, dengan sisa cung yang sudah habis kita bakar. Air di bath tub masih hangat. Kamu selesai bercerita tentang perempuan yang kamu sukai. Aku selesai mendengarkan ceritamu. Lalu, kita mendekat ke satu sama lain dan berciuman sambil menutup mata. Itu bukan pertama kali. Tapi, itu pertama kali rasanya aku mulai mengenal kamu. Dari semua lagu dari playlist yang kamu tata, yang terputar di kamar mandi, tiba-tiba ada suara drum menyeruak dengan perlahan - berbarengan dengan cymbal, aku nggak cukup update untuk tau itu lagu siapa. Tapi, itu lagu yang terus berada di kepalaku, bahkan sampai kita berciuman di rooftop. Aku percaya nggak ada yg kebetulan. Aku percaya bahwa ada beberapa hal yang akan terus melekat di kepala dan itu, adalah hal-hal yang memiliki nilai tersendiri.

Aku sempat lupa rasanya ciuman. Bagiku, itu cuma pertukaran air liur yang terjadi dengan liar dan cepat. Setidaknya, itu yang aku ingat sampai kita berada di rooftop. Seingatku, itu Kamis malam dan kita menyelinap melewati parkiran kosong dan tangga-tangga darurat. Kota terasa masih terjaga dengan binar lampu-lampunya. Aku berumur 20 tahun waktu itu, jalan 21 di bulan Novembernya. Saat itu masih bulan Juni. Tapi, sungguh, bulan Juni itu, di rooftop aku berasa 16 tahun.  Aku ingat rasanya ciuman yang sebenarnya. Aku ingat rasanya merinding saat disentuh. Sejak saat itu, aku jadi ingat bahwa, ciuman itu juga pertukaran perasaan. Ada kenangan, perasaan, dan hal-hal di antaranya yang kita barter. Aku percaya nggak ada yg kebetulan. Aku percaya bahwa ada beberapa hal yang akan terus melekat di kepala; mungkin kadang, hanya terlupakan sementara waktu, tapi akan datang lagi di saat yang tepat untuk mengingatkan kita, bahwa ada suatu perkara, yang sebaiknya menjadi kekal. Aku dan kamu, adalah salah satunya.

3.02.2016

Baby


Sometimes, all we need is someone to talk to.
A companion who will listen patiently to your rants.
A person who will not judge your sins.
or.. judge, but not in "that" way.
When you have that person, you don't care wherever the place to share stories;
Could be in a room full of people partying or showing off their beauty,
could be in a empty bus stop in the middle of the night,
could be in a love hotel room with smells of previous' ejaculation,
could be in your messy room with underwear, papers, and socks all over the place,
could be anywhere you have to spill your soul out.
Smoke the pain away,
Drink that scars and feel the pain.
They'll hug you. Fucking hug you. Fucking hug you like a fucking baby need a fucking hug.
Don't worry.
Sometimes, all we need is, "everything's gonna be okay."
Though we know that it's not going to be okay,
but when somebody else has a faith in our life,
we do have a little hope sparks within us.
We do understand that everything will be fine,
We do understand that we do not have to worry about the future and the past.
We do understand it in our head.
We fucking understand.
But, we just need someone to whisper those buried lullabies to our ears.
We're just babies, crying our way to sleep.



1.23.2016

To Whom It May Concern


It's been a long time since the last time I talked to you. After all this time, I thought I knew you, but I don't. I'm sure time's changing and everybody's changing. But you're not the person I used to know. You grow into someone who isolates herself into a heart full of ink. If loneliness were a competition, you'll be the last to survive. But, I see that you've been smiling more somehow, although only to whom you think are worth to share a smile with. Back then, you used to care on what people said. You used to want to be them. You used to want to know them. You used to be hurt. Now, you don't even know how much pain you should take to be painful. You grow apart, you grow something in your heart; a demon, 

a beautiful demon you've been trying to hide from everyone.



12.04.2015

11.07.2015

A Case of You

Sudah cukup lama gak menghabiskan roll film karena roll film memang lagi habis. Jadinya, saya sibuk lagi menulis dan menggambar di jurnal. Biasanya memang selalu begitu, tapi akhir-akhir ini berusaha lebih disiplin keeping my track through pen. Dulu sekali, pernah ada teman yang bilang bahwa, "Kalo kamu mungkin Patti Smith, kalo aku suka sekali sama Joni Mitchell. Her words swim too deep!". Beberapa hari yang lalu, lagu ini termainkan saat shuffling lagu di laptop. Sebelumnya saya nggak pernah terlalu perhatian dengan lagu ini, eh taunya, dalam sekali ya memang.. (duh, gampang baper). Untung aja sih bapernya menghasilkan hal-hal begini. 



"Just before our love got lost you said, i am as constant as a northern star, and i said, constant in the darkness, where's that at?"


"I could drink a case of you."


"I'm a lonely painter. I live in a box of paint. I'm frightened by the devil."



"I remember that time you told me, you said love is touching souls, surely you touched mine."



"I met a woman, she has a mouth like yours, she knew your life, and she said, go to him, stay with him if you can, but be prepared to bleed."


"But, I would still be on my feet."





10.02.2015

Black void

Niat melihat band dan dokumentasi, tapi nggak ingat nama band-bandnya apa saja (ingatan jangka pendek). Yang diingat cuma Egon Spengler. Karena cuma band ini dan Buas kesukaan saya dari Surabaya. (kalo nggak suka, nggak ingat). Tapi, seingat saya, ada band sampingannya WOOD CABIN (atau WOODCABIN???). Ini merupaka acara tur band sampingannya WOODCABIN (atau WOOD CABIN???). Thanks. Infonya segitu aja. Bye.











Blogger templates