7.29.2014

Chasing Lights

If there is a time where I want to put on my favorite shelf, I'll pick one where we go adventuring through the city buildings, running on their stairs up to the highest storey. Doing hide and seek with the security and even caught by them are the obstacles we see as adrenaline booster. But, those city lights pouring on the streets are the entertainment we look for and the twinkling silver stars upon the dark night sky are the treasure we found last night. They're such jewels among the artificial lights that human made. Did you realize the red fireworks that burst into the sky as we touched each other's lips with poetry written by our tounges? I remember the sound they made when I closed my eyes. It wasn't loud, but its echoes pounded my heart. If it was the moment I could keep in my film roll, then let it be. Let it be. Then, when we're done with the silent poetry on our lips, I saw that light, that calm flickering light, resting in your dilated pupils. Was that the light I've been looking for? Was that the light I finally chase?

Under the meteor rain of Aquarids on the last day of its periode, I was questioning the warm feeling that flickered into my soul.

7.09.2014

4 juli

Sayang, kita bukan warga Amerika.
Persetan dengan tanggal 4 Juli milik mereka.
Kita punya versi kita sendiri.
Kita ciptakan versi kita sendiri.
Versi mereka di dekorasi oleh warna biru, putih, dan merah.
Oleh kembang api yang melesat di langit malam
dan konfetti yang berhamburan di jalanan.
Versi kita lebih dari cukup.
Kita punya kamar kecil untuk kita berdua.
Ada tv kabel yang memutar lagu kesukaan kita, lagu korea, dan lagu top 40 Amerika sendiri.
Ada sabun vanilla di kamar mandi.
Ada air pancuran yang hangatnya bisa diatur dengan baik.
Lalu, yang paling aku suka, dan semoga kamu juga suka,
adalah percakapan panjang yang tak ada hentinya,
tentang mamamu, adikmu, papaku, teman-teman kita yang tak kunjung usai kuliah, dan kisah - kisah lain yang
terlalu jamak untuk aku jabarkan disini.
kecupan bersuara yang berdurasi sepuluh detik (kurang lebih sih),
binar matamu yang melepaskan ratusan serpihan kata tanpa perlu kamu katakan,
rambu lalu lintas di jalanan tubuhmu yang menyalakan cahaya, memohon untuk disusuri oleh segenap jemariku,
lidahku yang menuliskan puisi di mulutmu,
remang lampu yang membuat garis cahaya di ujung rambutmu,
berisiknya gema hasrat yang buat gaduh,
berisiknya pikiranku yang terkadang masih sulit untuk ditata menjadi paragraf yang bisa aku ungkapkan,
hujan di luar yang membuat tetes - tetes embun di jendela,
dan kita punya disko, sayang!
disko kamar mandi yang ditemani asap rokok dan embun air hangat dari pancuran.
tapi belum, itu belum puncaknya.
karena puncaknya, ujung dari segala ujung awal ataupun akhir, adalah,
kita
punya
satu
sama
lain.




Blogger templates