11.21.2014

Sebuah Perspektif



Entah kenapa menulis saat lewat tengah malam itu sesuatu. Semua perasaan terkumpul jadi satu. Intim, romantis, sendu, haru, dan khusyuk. Seharian tadi saya mencoba merajut beanie, tapi kok bingung mau mulai darimana. Tidak terbiasa pakai circular needle tampaknya. Lalu, kelewat sumpek, saya iseng baca jurnal – jurnal tentang post-feminisme. Dari situ, plot twist yang sering ada di kepala saya bahwa perempuan itu sendirilah yang mengendarai stigma perempuan yang beredar di media makin berdentum. Saya terkadang berpikir bahwa sebenarnya, perempuan – perempuan itu justru bukan objek. Mereka sendiri yang memberi penilaian terhadap diri mereka sendiri, berdandan sesuai penilaian mereka sendiri dan menargetkan para penonton (para pria yang banyak mau dan para perempuan insecure) dengan apa yang mereka pakai. Nah, bang! Objeknya adalah para penonton itu. Memang, bahwa media selama ini hanya mengeksploitasi satu sisi perempuan saja, yaitu; fisik, adalah sesuatu yang tidak bisa disangkal. Tapi, makin lama, potret yang dihadirkan tak selalu physically “perfect” dan dumb blonde seperti yang sebelumnya sering ditampilkan. Pernah dengar manic pixie girl bukan? Nah. Dalam pendapat saya, ini sisi eksploitasi yang semakin marak saja ditampilkan. Bukan lagi persoalan fisik tentang badan yang padat gemulai atau langsing nan jenjang. Manic pixie girl belum tentu seperti itu. Mereka biasanya hadir dalam fisik langsing (tapi tidak kurus sekali), tinggi badan standard atau malah mungil, tidak memiliki wajah layaknya model kosmetik, tapi tentunya ada hal lain yang membuat mereka menarik. Entah itu kemampuan berbahasa Perancis mereka, doe-eyed mereka, selera busana mereka yang biasanya cenderung “vintage”, selera musik yang disebut “indie”, terkadang punya bakat seni, seperti menggambar atau membuat lagu di saat senggang dengan ukulele, sarkastik, dan most of all, mereka digambarkan memiliki jiwa yang bebas, mengejar passion mereka dengan moto YOLO, tidak punya pekerjaan tetap dengan gaji yang menunjang, tapi masih bisa pergi ke coffee shop, berpetualang kemana saja, dan belanja vinyl. Jika sebelumnya hanya dimensi fisik saja yang dieksploitasi, sekarang intelektualitas dan spiritualitas juga! Senang mendengarnya? :)) . Bagi saya, apapun scene-nya, pasti suatu saat akan menjadi mangsa bagi industri. Karena setiap scene tentu ada pasarnya bukan? Pasar tidak harus besar pada mulanya, kecil jika memiliki kekuatan yang besar dan mampu mempengaruhi sekitar dengan cepat dan baik tentu akan menjadi besar nantinya. Ini semua tentang perspektif. Jangan buru – buru menilai media yang menciptakan semua ini. Bisa saja kita yang menciptakannya sendiri tanpa sadar dan mengonsumsinya mentah – mentah seolah tak pernah mengenalnya sebelumnya. Lalu, kenapa tidak membangun perpektifmu sendiri? Menjadi cantik karena memang begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Menjadi ganteng dan macho karena memang begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Menjadi apapun orientasi seksualmu dan berdandan sesukamu, karena memang begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Menjadi bebas, mabuk di bar, berdansa - stage diving sesukamu bersama teman – teman bodohmu, dan mengacungkan jari tengah ke semua orang yang menolakmu – seraya persetan semuanya, karena begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Dan saya, duduk di pojokan bar saat lewat tengah malam, menyesap sisa bir dan memperhatikan tiap wajah yang tenggelam di balik pendar lampu, sambil mencoret-coret jurnal saya, karena saya tahu, begitulah saya memandang diri saya sendiri, dan begitulah saya ingin kamu memandang saya.





and yes, this portrait of a horny nerd girl biting a comb is also how i want you to see me.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogger templates