9.21.2014

Perkara Kencan dan Printilan di Baliknya



Setelah dua minggu tidak bertemu, saya dan pacar saya akhirnya kencan lagi. Apa yang spesial dari kencan kali ini? Apa signifikannya kencan ini bagi masyarakat dan negara? Tidak. Tidak ada. Memangnya siapa kami ini? Fashion blogger bukan, punya band juga cuma main di gigs – gigs kecil, punya pekerjaan paruh waktu pun kadang underpaid. Ah, kami adalah pasangan muda biasa, yg kali ini melakukan kencan yang banyak dilakukan oleh remaja lain. Sabtu malam minggu kemarin kami nonton di bioskop. Mall tampak ramai sekali oleh pasangan – pasangan muda dan segerombolan pria sekawanan yang tampak tak punya banyak pilihan untuk malam minggu. Ini bukan kencan yang biasa bagi kami. Tidak biasanya kami nonton film di bioskop. Kencan kami biasanya diwarnai oleh agenda mencari rooftop dan melihat lampu kota dari sana. Ngobrol – ngobrol, cubit – cubit, ketawa – ketawa, oleng sedikit, lalu bisa saja berujung pada impromptu quickie (hehehe). 

Tapi, pilihan kencan di mall itu bukan tanpa alasan. Yang mendasari pilihan kami di mall tersebut adalah, pemandangan kota dari mall tersebut (sejauh ini) merupakan yang terbaik di kota kami. Ada gedung – gedung dengan lampu warna – warni, lampu kota yang mengiringi berbagai arah menuju rumah, dan jembatan Suramadu yang berpendar di ujung timur. Oh, lalu ada alasan kedua. Kami memiliki janji dengan teman kami, Muarif, untuk mengambil kaus hasil ilustrasinya disana.

Area kantin mall sangat ramai. Mau berjalan berdua beriringan saja susah. Ah, mau mesra saja kok susah sih, my love? Muarif belum datang, dan kami masih bingung mencari jalan menuju bioskop. 

“Gandengan, po’o, rek.”.

Begitulah kalimat yang diucapkan Muarif saat bertemu kami. Melihat Muarif, saya langsung berpikir, mungkin kami bertiga cocok untuk jadi sampul album band indie masa kini. Dua pria muda dengan jaket harrington yang separuh diresletingkan dan perempuan muda negara tropis yang masih nekat memakai windbreaker jacket. (Habis yang paling cocok untuk kaus polo biru indigo saya cuma jaket cropped warna hijau army ini). Susah sih memang hidup ini kalau mau pakai baju saja harus cocok – cocokan. Padahal siapa sih yang mau lihat? (Ya, ada sih, kalau saya Yumna Kemal atau Pupu Paula. Tapi ah, siapalah saya ini). Tapi ada yang kurang rasanya kalo bukan pakai jaket yang ini. Ah, fashion. Salah satu peranakan kapitalisme yang sudah mendarah daging pada diri saya. “Yaopo, Mu’? Dibayar sekarang ta?”, kata pacar saya. “Wah, ntar aja, Dim.”. “Oke, oke, kalau gitu, ikut kita ke rooftop dulu, gimana? Sambil santai – santai?”, ajak pacar saya. “Bisa tuh.”, jawab Mu'arif.

Perjalanan dari lantai 4 ke rooftop sebenarnya gampang, tinggal naik lift sampai lantai 7B, lalu jalan kaki lewat tangga darurat menuju  lantai 8. Tapi, sesampainya di lantai 7B, ternyata pintu menuju tangga darurat tidak bisa dibuka. Akhirnya, kami harus turun lagi ke lantai 6B. Saat pintu lift terbuka, terlihat wajah – wajah keheranan, mungkin mereka bertanya – tanya, ngapain ada orang parkir di lantai 7B? . Lift itu diisi dua keluarga. Yg satu memilih diam, yang satu, ada nenek – nenek yang terlalu ingin tahu bertanya kepada cucunya yang tampaknya masih TK, “Masuk sekolah jam berapa?” “Sekolah naik apa?”. Padahal cucunya yang polos hanya menjawab “Nggak tahu..”. Ah, anak kecil yang polos, anak kecil yang tidak tahu jam sekolahnya sendiri (jadi apa kamu nak besarnya kalau tidak diajari manajemen waktu?). 2 menit kemudian, kami sudah ada di lantai 6B dan langsung menaiki anak tangga darurat menuju lantai 8. Sesampainya disana, terbentang luaslah hiburan romantis masyarakat kota. Ah... apalagi yang lebih romantis dari pendar lampu kota di malam hari? Terlebih saat mencopot kacamata minus dan mendapati bentuk segi enam dan bulat – bulat kecil dari pendar tersebut layaknya berjoget manja diantara jalanan kota. Ah...  inikah romansa?

Kami bertiga duduk di bangku kecil yang terbuat dari semen. Bukan bangku sih, lebih tepatnya batasan untuk parkir yang kami jadikan tempat duduk. Angin disana berhembus dengan kokohnya, untuk menyalakan korek saja dibutuhkan usaha yang lebih. Langit pukul 8 kurang 5 saat itu biru kemerahan, seperti ada yang membakar ujung langit disebelah utara, seiring dengan memerahnya langit, batang pertama pun sudah mulai terbakar. “Disini bagus juga ya ternyata, sama kayak rooftopnya Husada Utama.”, ujar Muarif. “Iya rooftopnya Husada Utama tinggi juga kan ya.” “Iya, tapi aku pernah diusir satpam cuk, padahal gak ngapa – ngapain, cuma berduaan aja disana.” “Cuk, satpamnya ancen gateli. Aku tadi tanya kamar mandinya dimana, disuruh cari sendiri.”, kata pacar saya yang sebelum kencan memang ke rumah sakit Husada Utama. Kakak iparnya melahirkan. “Daripada kita, diusir cuk pas di Royal, mbak ketangkap kamera lho tadi.”, saya menimpali.  “Terus diapain? Dimintain KTP?”, tanya Mu'arif. “Iya, tapi cuma kita kasih lihat aja.”, jawab pacar saya “Aku dulu pas di Husada Utama ditahan KTPku, besoknya diambil.”, kata Mu'arif menimpali.

Dan begitulah percakapan kami, mengarah kemana saja, mulai dari pengalaman di rooftop, saya yang tanpa disadari berlagak puitis, sampai Mu’arif yang mengandai – andai kalau semisal kita tertangkap satpam. Saat itu memang pantas disebut “ajur”, kami yang haus bahkan malas mau turun ke supermarket untuk membeli minuman. Butuh setengah jam hingga kami mau berjalan dan naik lift menuju lantai dasar.

Di supermarket, saya dan pacar saya membeli air mineral, teh buah, es krim, dan sandwich selai kacang. Mu’arif, entah bagaimana membeli keju tanpa alasan yang signifikan, dan baru menyadarinya saat berada di kasir. Akhirnya, ia mengembalikan keju itu. Kami bertiga yang masih santai, duduk di bangku dekat atm. Sedikit es krim dan teh lumayan untuk menyibakkan jiwa kami kembali. “Gak feeling makan ta? Aku belum makan seharian.”, sebuah ajakan implisit dari pacar saya untuk menuju area kantin. “Nontonnya masih lama kan?”, giliran saya yang bertanya. “Iya lah, masih jam 9.40 nanti, sekarang masih jam 9 kurang.”, jawabnya. Sembari mencari lift menuju area kantin, Mu’arif memutuskan untuk kembali ke rumah. Lalu, kami yang masih santai ini mencari makan yang pas di kantong. Kencan memilih di mall, tapi tetap saja makannya cari yang paling murah. Saya, yang vegetarian, sudah pasti yang paling hemat. Kebab vegetarian ukuran large seharga 16ribu sudah sangat menyenangkan. Isinya selada, kacang merah, jamur, dan wortel, dibalut asamnya mayones yang sayangnya, hanya terasa sedikit. Pelit sekali kapitalisme ini. Pacar saya, yang memuja daging membeli steak ekonomis yang saus barbequenya tampak nikmat sekali. Saus coklat gelap dengan biji wijen yang sangat menggoda. Uuuh, dituangkan diatas daging yang masih panas dan empuk setelah dipanggang. Bayangkan sensasinya, pasti seperti saat perutmu dituang krim vanilla. Sayang, saya tidak bisa makan daging (tetapi saya masih sangat bertoleransi pada daging yang lain kikikikikik).

Karena kami masih dalam keadaan santai, kami hanya fokus pada makanan. Bingung mau berbicara apa. Lapar iya, santai iya. Dalam hening dan berputarnya jamur, selada, kacang merah, dan wortel dalam mulut saya, saya ingin sekali kami terlibat dalam percakapan. Dua minggu ini, kami tidak bertemu. Ia kuliah di luar kota, sementara saya, terjebak dalam kegiatan yang itu – itu saja di kota kelahiran saya sendiri. Ada suara percakapan telefon, percakapan di motor, dan nada hening diantara kedua percakapan tersebut, yang terus menerus berputar di balik rasa jamur dan kacang merah yang aneh. Pacar saya sedikit kesulitan memotong daging steaknya. Iyalah, orang pakai pisau plastik. Kapitalisme ini memang suatu hal yang mahal bagi kami. Tetapi, motor yang ia pakai untuk pergi bersama saya, jaket bekas import yang saya pakai, pulsa telefon untuk kami melepas rindu saat malam, dan bahkan pemandangan lampu kota yang biasa kami nikmati, semuanya adalah produk kapitalisme. Apa signifikannya kencan kami bagi masyarakat dan negara ini? Ada. Signifikannya ada. Signifikannya adalah setiap hal kecil yang kami lakukan dalam kencan kami, memilih baju untuk kencan, lipstik yang saya pakai, motor yang ia pakai untuk pergi bersama saya, nonton bioskop, pulsa telefon, semuanya adalah peranakan kapitalisme yang membantu negara ini membayar hutangnya. Kami adalah bagian kecil dari masyarakat yang tidak bisa lepas dari rantai kapitalisme, termasuk kegiatan kencan di rooftop yang cuma duduk – duduk dan berbagi cerita. Dan dalam riuhnya kantin mall, decit pisau plastik untuk memotong daging, dan kunyahan kebab vegetarian, saya hening dalam pikiran tentang kapitalisme dan asmara. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Blogger templates