Halaman

5.28.2013

Ini sudah hampir jam setengah 4, dan saya masih belum menyelesaikan makalah saya untuk besok (masih ada 3/4 bagian lagi). Saya nggak suka dengan tugas makalah seperti ini, ada banyak langkah dan birokrasi yang harus dilalui. Tapi kalau mau bebas juga, memangnya saya bisa sebebas apa? Kalau mau bebas, memangnya mau ngapain? Saya nggak tau. Saya sendiri nggak tau apa mau saya. Akhir - akhir ini saya banyak memikirkan masa depan. Khawatir gak lulus - lulus kuliah, khawatir ga memiliki pekerjaan yang sesuai minat dan waktu, khawatir orang tua mau dikemanakan nantinya kalau sudah semakin tua, khawatir bertemu orang - orang yang salah, yang ketika saya terlanjur merasa dekat dan banyak bercerita, mereka pergi dan mendongengkan cerita pribadi saya. Khawatir ini dan itu. Lalu entah ada apa, saya mendapatkan pekerjaan. Oke, saya memiliki beberapa murid sejak beberapa bulan yang lalu. Kamu tahu, saya merasa cukup aman dengan keadaan saya pada saat itu. Saya berumur 19 tahun dan it feels good to pay my own stuffs. Yah, pada awalnya sih. Lama kelamaan, saya justru malah semakin merasa tidak aman. Saya merasa tidak cocok dengan pekerjaan ini. Sebetulnya mengajar private itu enak, you are paid per hour with a good price. Tapi, saya tidak siap menghadapi brutalnya bocah - bocah setinggi tak lebih dari 1,2 meter. Terkadang, saya merasa, "Fuck i'm not here to babysit you, be good and do your fucking homework!". Tapi yah, saya tidak mungkin melakukan itu dan saya juga nggak bakal tega.

I want to have a job dimana saya bisa mengerjakannya di rumah, dan lebih bebas memilih waktu. Iya iya iya, saya tahu, saya harus kompromi dengan beberapa hal. Tapi, menurut saya, satu - satunya hal yang anda harus berkompromi adalah dengan diri sendiri. You should put yourself first sebelum memutuskan sesuatu. Kembali tentang kekhawatiran tadi, saya merasa saya mendapati krisis pada quarter pertama kehidupan sebagai manusia di masa ini. Yah, itu tadi insecurity and worrying over future. Sebelum menulis posting ini, saya sempat berbincang dengan teman dekat saya di facebook, katanya ia juga merasakan hal yang sama. Dan mirisnya, kami bahkan belum 20 tahun. Kami, atau mungkin saya boleh berkata, kita, seringkali terlalu mengkhawatirkan apa yang belum tentu terjadi. Kuliah aja belum selesai, udah mikirin yang lain. Begitu mungkin lebih tepatnya. Saya bilang pada dia kalau 'I can buy stuffs and pay my own things, but it didn't last forever.", lalu ada jeda.. dan saya berkata lagi, "maybe forever doesn't exist.". Sungguh, money is not the thing, man. Jaket kulit dengan hoodie abu - abu di salah satu toko pakaian yang saya lewati dua minggu yang lalu memang sangat menggoda dan level kepercayaan diri saya bisa langsung meningkat 150 persen dengan memakainya. Tapi, toh, itu cuma jaket. Saya hanya akan memakainya selama 6 jam dalam sehari atau mungkin 8 jam lah. Mengkhawatirkan masa depan dan money itu memang tidak perlu, tapi lalu ada pertanyaan lagi, 

"Bukankah kita butuh rencana?". 

Oke. Rencana itu baik, ia dapat membuat segala sesuatunya menjadi lebih teratur dan yang terpenting dari semuanya adalah, kita tahu apa yang kita mau. Tapi, menurut saya dan juga teman saya, rencana itu nggak perlu jauh - jauh, untuk satu jam berikutnya saja bisa. Lalu, dengan penuh keyakinan a la perempuan di usia 19 tahun, saya berencana untuk mencari pekerjaan yang lebih cocok untuk saya, atau mungkin sekalian tidak bekerja dulu. Let me take a deep breath. 

You know, it will feel good for me knowing if every breath I take is a sign of relieve.

Selain itu, saya dan teman saya saling bercerita tentang kami yang sama - sama 'membatasi'. Saya orangnya terlihat ramai, riweuh dan sangat hore. Saya bisa bertemu, mengenal siapa saja, pergi sesekali dengan siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Tapi, kalau sudah ingin masuk lebih dalam ke kehidupan saya, saya menjadi sangat selektif. Saya juga sebetulnya tidak terlalu paham apa itu arti 'friends', kadang juga saat saya ingin berteman dengan beberapa orang, belum tentu mereka juga merasa ingin berteman dengan saya. 'Friends' atau cuma 'someone I know'? Someone I know at college, someone I know at high school, someone I know in my bed at some time. Saya jarang ngobrol 'heart to heart' dengan segelintir orang yang katanya 'teman'. All my friends whom I usually talk to are out of town, including my boyfriend. Saya nggak tahu siapa teman saya di tempat saya berdomisili. Orang - orang akan pergi dan datang pergi dan datang dan begitu siklusnya. Kita semua cuma halte. Menunggu siapa yang akan datang, singgah, lalu pergi lagi. Jika beruntung, dia atau mereka bisa saja masih merasa mengenal kita saat di waktu nanti bertemu di supermarket saat membeli rokok atau saat kita bekerja disuatu tempat dan whooah 'i know her!'. Tapi, jika sial, saat seseorang pergi, tiba - tiba saja kita menjadi asing akan satu sama lain. Miris. Kita mengenal mereka begitu lama, berbincang tentang masa kecil dan khayalan tentang masa depan,  bercanda genit saat hanya ada kita berdua, hmmmft... banyak sekali. Lalu, tiba - tiba, saat satu sama lain memutuskan pergi, kita dan dia berubah. Suddenly strange.  

But, well, people are strange anyway.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger templates