5.28.2012

Lima Batu Bata




Sekitar enam atau tujuh minggu yang lalu, saya mengalami patah hati total dan mengalami masa kegelapan selama beberapa minggu kemudian. Tapi, baru saja, sekarang, saya sadar, mungkin, dia memang tidak cocok dengan saya dan begitu pula saya kepada dia. Pemikiran kami berbeda jauh. Dia yang masih suka bermain  - main dan memilih untuk belum saatnya menata hidup, berbeda sekali dengan saya yang berpikir sedikit lebih menata hidup. Well, hidup saya memang bukan seperti Buddha atau bikshu, malahan saya pun masih suka mainan troli di supermarket, mabuk jamur ajaib, nggiting. Tapi saya berusaha yang terbaik dan konsisten pada hal  - hal yang menjadi passion, serta patut di perjuangkan. 

Sebelum hubungan kami di ketok palu, kami sering berbicara mengenai mimpi  - mimpi kami. Bagus juga, karena berarti dia punya pemikiran ke depan. Tetapi, sayangnya, pemikiran serius yang dia miliki baru sekedar serius untuk kadar bocah. Semacam anak sd yang bilang ke gebetannya kalau," Suatu saat nanti kita akan menikah, punya dua anak, dan kita akan terkaget - kaget sekaligus bahagia waktu tau kamu hamil kembar dua. Kita akan punya rumah yang kecil dan sederhana, dengan taman penuh bunga daisy kesukaanmu dan kita akan bertamasya ke gunung tiap dua bulan sekali...................". Kata akan yang tak akan pernah selesai memang. Yah, kamu mengerti lah, kalau dalam taraf bocah, mereka seseriusnya hanya bilang begini tanpa ada usaha lebih untuk meraihnya. Dan begitulah dia. Sementara saya sudah berusaha lebih baik daripada periode hubungan kami sebelumnya (iya, yang kali ini balikan memang, dan kali kedua.) dan saya juga berharap dia begitu (bukan berperilaku layaknya bocah sd, yang bahkan dia tidak cukup bertanggung jawab akan dirinya, menurut saya.). 

Dalam banyak waktu, dia bilang kalau dia memang sayang dengan saya dan menunjukkan perilaku yang semestinya. Tapi lambat laun, perilaku dan rasa tersebut bukan yang seutuhnya saya butuhkan. Ada hal - hal mendasar yang hilang dari dia. Hal - hal yang dulunya sempat ia miliki. Yaitu, rasa memahami, peduli (pedulinya lebih ke arah empati, bukan sekedar peduli tapi terus nggak ngapa - ngapain), tanggung jawab dan konsisten. Empat poin ini lah yang sebenarnya saya cari - cari kemana perginya selama ini. Empat poin yang saya kira sudah kembali hidup. Bagi saya, empat poin ini adalah fondasi dasar yang harusnya di miliki. Gampangnya begini, kamu akan mudah jatuh cinta dengan sahabat kamu kan? Dengan sahabat yang memahami kamu apa adanya, peduli dengan perhatiannya ke kamu, berani mengambil resiko bersama kamu dan konsisten dengan kata, perilaku dan perasaanya kepada kamu? 

Bicara tentang peduli, peduli itu memang sesuatu yang mahal. Tetapi, peduli tidak hanya berarti baru menunjukkan empatinya di saat kita sakit atau orang tua kita lagi bertengkar hebat. Peduli bisa dari hal - hal kecil, seperti di saat kamu terlihat capek, setelah dari kampus/sekolah/kerja dan dia memberi kamu segelas air (ya asal bukan air aki). Ini mahal lho harganya, tidak semua orang bisa peka seperti ini. 

Lebih dari itu, ke - empat poin tersebut bagi saya merupakan suatu fondasi yang harus ada dan pada tumpukan kelima, ada hal yang kita biasa sebut rasa sayang (gak, bukan rasa sayang karaoke dangdut itu, yang majang billboard berupa fotonya Ayu Azhari pas masih muda pakai baju India). Dan kalau mau di gambarkan, bentuknya bukan seperti piramida terbalik punya Pancasila. Tetapi, lima batu bata yang sama besarnya, sama panjangnya dan sama massanya. Kelimanya sama - sama krusial. Satu hilang, semua runtuh jadi abu dan tersapu angin, lalu..... tak bersisa. 

Saat ini, saya memilih banyak waktu untuk diri saya dulu dan mengambil nafas dalam - dalam (terus aerobik sambil nonton ANTV.). Saya sudah banyak menghabiskan banyak waktu dengan orang lain yang membuat saya banyak belajar dan memahami diri saya sendiri. Saat ini, saya masih delapan belas tahun, naif,  dan banyak yang masih belum saya pahami. Ini cuma sekedar pemikiran dari saya, gadis delapan belas tahun yang tak pernah main - main.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger templates