Halaman

1.07.2015

Diantara Hotel Esek-esek, Pesta, dan Absennya Terang

Desember. Dimana majalah membundling edisinya sebagai Desember/January. Sebuah alfa-omega. Awal dan akhiran. Awal dari segala perkara. Akhir dari segala sebab. Desember. Di dunia saya yang kecil, ada saat dimana perjalanan terurai dari Surabaya, Cepu, Batu, Malang, Sidoarjo, dan kembali lagi ke rumah saya, di Surabaya. Uraian tersebut menitahkan wajah - wajah baru untuk saya temui. Diantara gerimis kecil kota Semarang dan hotel esek-esek di Ungaran. Lalu, pesta yang didatangi secara impromptu di kota Batu. Botol yang berserakan dan kolam renang yang berpeluh tawa. Wajah demi wajah yang berdansa di hadapan saya. Wajah yang tiba - tiba menghampiri dan berkata bahwa malam ini malam ulang tahunnya. Entah siapa. Rambutnya panjang, lengket kena keringat, dan bau arak. Tetapi pesta berlalu dengan cepat. Semua lelah dan saya masih sadar. Esoknya, sudah tiba saja di Malang. (Saya tidak mau lama - lama menulis ini. Ada jadwal mengajar sejam lagi). Di Malang, hujan meniti kisahnya di permukaan jendela. Saya dan pacar saya mendekam di kamar. Kelambunya biru. Langit abu - abu. Kami tak pernah nyalakan terang lampu. Ada binar yang sudah menyala sendiri. Sayang, Malang hanya kami singgahi selama 2 hari. Kelambu biru terpaksa jadi kenangan. Kami harus lanjut ke Sidoarjo. Disana, kamar lain sudah menunggu. Sebelum disambut lampu kelap - kelip di kamar itu, ada wajah yang tak asing namun terasa asing untuk disapa. Wajah yang enggan untuk menyapa dan membuat segan untuk menyapa. Entah kenapa wajah orang ini. Sejauh ini, saya baru sadar, kami selalu mendapati kamar yang gelap atau paling tidak remang. Apakah terang mengasingkan dirinya dari kami? Ah, tak apa lah, yang penting binar hasrat selalu menyala. Beberapa hari kemudian ada pesta lagi. Pesta itu menyambut tahun yang katanya baru. Tahun yang katanya diakhiri dan dilahirkan lagi. Menurut penghitungan, ada 81 orang yang datang malam itu. Ada orang - orang membawa wajah atau sekedar bertopeng wajah. Wajah yang menyisakan kepayang, wajah yang meledakkan minuman, wajah yang dilumat nafsu, wajah yang tertawa membalas lambaian tangan, dan banyak jenis wajah yang lain. Namun, dari semua perjalanan, dan memang selalu begitu, saya sedikit memiliki kesulitan bertemu wajah baru dalam jumlah banyak. Perjalanan ini asing dan sering saya merasa terasing. Itukah perjalanan yg mereka bangga-banggakan? Sebuah keasingan yang diagungkan. Sebuah kemewahan masa sekarang.















































11.21.2014

Sebuah Perspektif



Entah kenapa menulis saat lewat tengah malam itu sesuatu. Semua perasaan terkumpul jadi satu. Intim, romantis, sendu, haru, dan khusyuk. Seharian tadi saya mencoba merajut beanie, tapi kok bingung mau mulai darimana. Tidak terbiasa pakai circular needle tampaknya. Lalu, kelewat sumpek, saya iseng baca jurnal – jurnal tentang post-feminisme. Dari situ, plot twist yang sering ada di kepala saya bahwa perempuan itu sendirilah yang mengendarai stigma perempuan yang beredar di media makin berdentum. Saya terkadang berpikir bahwa sebenarnya, perempuan – perempuan itu justru bukan objek. Mereka sendiri yang memberi penilaian terhadap diri mereka sendiri, berdandan sesuai penilaian mereka sendiri dan menargetkan para penonton (para pria yang banyak mau dan para perempuan insecure) dengan apa yang mereka pakai. Nah, bang! Objeknya adalah para penonton itu. Memang, bahwa media selama ini hanya mengeksploitasi satu sisi perempuan saja, yaitu; fisik, adalah sesuatu yang tidak bisa disangkal. Tapi, makin lama, potret yang dihadirkan tak selalu physically “perfect” dan dumb blonde seperti yang sebelumnya sering ditampilkan. Pernah dengar manic pixie girl bukan? Nah. Dalam pendapat saya, ini sisi eksploitasi yang semakin marak saja ditampilkan. Bukan lagi persoalan fisik tentang badan yang padat gemulai atau langsing nan jenjang. Manic pixie girl belum tentu seperti itu. Mereka biasanya hadir dalam fisik langsing (tapi tidak kurus sekali), tinggi badan standard atau malah mungil, tidak memiliki wajah layaknya model kosmetik, tapi tentunya ada hal lain yang membuat mereka menarik. Entah itu kemampuan berbahasa Perancis mereka, doe-eyed mereka, selera busana mereka yang biasanya cenderung “vintage”, selera musik yang disebut “indie”, terkadang punya bakat seni, seperti menggambar atau membuat lagu di saat senggang dengan ukulele, sarkastik, dan most of all, mereka digambarkan memiliki jiwa yang bebas, mengejar passion mereka dengan moto YOLO, tidak punya pekerjaan tetap dengan gaji yang menunjang, tapi masih bisa pergi ke coffee shop, berpetualang kemana saja, dan belanja vinyl. Jika sebelumnya hanya dimensi fisik saja yang dieksploitasi, sekarang intelektualitas dan spiritualitas juga! Senang mendengarnya? :)) . Bagi saya, apapun scene-nya, pasti suatu saat akan menjadi mangsa bagi industri. Karena setiap scene tentu ada pasarnya bukan? Pasar tidak harus besar pada mulanya, kecil jika memiliki kekuatan yang besar dan mampu mempengaruhi sekitar dengan cepat dan baik tentu akan menjadi besar nantinya. Ini semua tentang perspektif. Jangan buru – buru menilai media yang menciptakan semua ini. Bisa saja kita yang menciptakannya sendiri tanpa sadar dan mengonsumsinya mentah – mentah seolah tak pernah mengenalnya sebelumnya. Lalu, kenapa tidak membangun perpektifmu sendiri? Menjadi cantik karena memang begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Menjadi ganteng dan macho karena memang begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Menjadi apapun orientasi seksualmu dan berdandan sesukamu, karena memang begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Menjadi bebas, mabuk di bar, berdansa - stage diving sesukamu bersama teman – teman bodohmu, dan mengacungkan jari tengah ke semua orang yang menolakmu – seraya persetan semuanya, karena begitulah caramu memandang dirimu sendiri. Dan saya, duduk di pojokan bar saat lewat tengah malam, menyesap sisa bir dan memperhatikan tiap wajah yang tenggelam di balik pendar lampu, sambil mencoret-coret jurnal saya, karena saya tahu, begitulah saya memandang diri saya sendiri, dan begitulah saya ingin kamu memandang saya.





and yes, this portrait of a horny nerd girl biting a comb is also how i want you to see me.

11.03.2014

Shoyu Tamago



Ever wondering why the egg in ramen could taste so heavenly? I also have been wondering about it since the last ramen I had two weeks ago. I always love hard-boiled eggs, been trying to make them from boiling or even putting them in the oven. But, this morning, I tried this japanese soy sauce egg! This one is not the original shoyu tamago, because I added sake and some ingredients like garlic, scallions, and ginger. This will make for 4 eggs.

What you need:

4 eggs
1 cup of water
1 cup of soy sauce
½ cup of sake
2 cloves of garlic (peeled and crushed)
2 scallions (2 ounces), trimmed and coarsely chopped
1 ounce ginger, skin on, crushed


What you gotta do:

Add all of the ingredients (minus the eggs) into a saucepan and bring to a boil over high heat.

Remove from the heat and let it be in room temperature

Fill a saucepan with water and bring to a boil over high heat, lower the heat a little once it starts to boil

-and nah! here’s the fun trick! Use a pushpin or other stuff pin to gently open a small hole on the bottom of each egg (the rounded side is the bottom, not the pointy side). This helps loosen the egg white from the shell during cooking, making it easier to peel :) -

Gently place the eggs in the water

Set your timer for 6 minutes (this is the most important 6 minutes in the pre-natal life of shoyu tamago)

During the first 2 minutes, you have a critical job. Grab a chopstick or a spoon and spin the eggs around in the saucepan for the entire 2 minutes.

Then, for the rest minutes, you just have to stare lovingly at your cute eggs.

When your timer rings, pour out the boiling water and run cool water to cool the eggs.

Once they’re cool, peel them.

Pour your marinade into a bowl along with your peeled eggs. Marinate them in your fridge for up to 12 hours.

And now, when you wake up and ready, slice your lovely eggs gently.

Happy cooking!



Blogger templates